|
BOYOLALI, KOMPAS - Di wilayah Kabupaten Boyolali banyak potensi usaha mikro, kecil, dan menengah atau UMKM yang bisa dikembangkan, tetapi belum semua mendapat akses perbankan. Hal ini karena akses pelaku usaha tersebut terhadap perbankan belum terbuka.
Selain pengetahuan tentang mekanisme pengajuan kredit terhadap perbankan masih minim, pelaku usaha juga khawatir dikenakan suku bunga yang tinggi jika pinjam uang ke bank.
Hal itu terungkap dalam kunjungan bisnis Pimpinan Kantor Bank Indonesia Solo Dewi Setyowati dan sekitar 40 direksi Bank Perkreditan Rakyat (BPR) di wilayah eks karesidenan Surakarta ke beberapa sentra UMKM di Boyolali, Kamis (31/5). Turut serta dalam kunjungan itu Ketua Perhimpunan BPR di eks Karesidenan Surakarta, Surata.
Kunjungan bisnis tersebut untuk melihat lebih dekat potensi UMKM di Kabupaten Boyolali. Menurut Kepala Seksi Pelaksanaan Kebijakan Moneter KBI Solo Ronny Wijianto, KBI Solo menfasilitasi BPR untuk melihat langsung peluang pembiayaan terhadap UMKM di Boyolali. Hal ini merupakan tindak lanjut dari pertemuan Pemimpin BI Solo Dewi Setyowati dengan Bupati Boyolali Sri Moejatno beberapa waktu lalu. Selain berdialog dengan pejabat dan staf Dinas Perindustrian, Perdagangan, dan Koperasi Kabupaten Boyolali, rombongan kunjungan bisnis KBI Solo dan BPR tersebut mengunjungi sentra UMKM di Kabupaten Boyolali.
UMKM yang dikunjungi adalah sentra usaha rambak terigu dan konvensi di Desa Kopen, Kecamatan Teras, sentra pengrajin tembaga di Desa Tumang, Kecamatan Cepogo, sentra pandai besi dan konveksi di Desa Mojo, Kecamatan Andong dan sentra perajin mebel di Desa Sembungan, Kecamatan Nogosari.
Selain mengenal lebih dekat potensi UMKM di Boyolali, dari kunjungan tersebut pemimpin BI dan direksi BPR se-Surakarta bisa berdialog langsung dengan pengusaha-pengusaha UMKM sehingga dapat menjajaki kemungkinan pembiayaan di sentra-sentra usaha tersebut.
"Ternyata dari kunjungan kemarin, kita mendapat informasi ada beberapa UMKM yang belum tersentuh perbankan. Sentra usaha rambak terigu di Kopen ada yang usahanya sudah lama, sekitar 16 tahun, tapi tidak pernah mendapat bantuan permodalan ataupun kredit dari perbankan," ujar dia.
Dari kunjungan tersebut, menurut Ronny Wijianto, rombongan BI dan BPR mendapatkan banyak informasi dari berbagai sentra UMKM yang tentu saja memerlukan tindak lanjut dari BPR. BI Solo akan melakukan monitoring terhadap tindak lanjut kunjungan tersebut. |