Hilman Hidayat: Usaha Mikro layak dapat kredit
Bisnis Indonesia - Bandung
Bank Indonesia menilai usaha mikro kecil menengah (UMKM) sudah cukup layak untuk mendapatkan akses kredit dari sektor perbankan dalam volume signifikan, sebab selama ini telah banyak UMKM dikategorikan sehat dan menguntungkan. Kepala Bidang Ekonomi dan Moneter BI Bandung Hernawan B. Sasongko mengatakan berdasarkan hasil penelitian BI pada 2005 di 11 wilayah di Indonesia dengan sampel 11.000 UMKM, terungkap bahwa 49,3% UMKM telah memanfaatkan produk dan jasa perbankan. "Selain itu, 64,6% UMKM memerlukan kredit, penelitian itu juga mengungkapkan, kondisi UMKM cukup baik karena 84,4% UMKM mendapat keuntungan usaha lebih dari 10%, dan 35% UMKM lagi dikategorikan mempunyai profit margin lebih dari 35,1%," katanya dalam diskusi terbatas di Kantor Bank Indonesia (BI) Bandung, akhir pekan lalu.
Menurut dia, meski UMKM telah mendapat keuntungan dan mempunyai profit margin yang signifikan, ternyata ma-sih menghadapi beberapa kendala antara lain masih kurang kuatnya aspek manajerial, legalitas, pengetahuan teknologi produksi dan quality control, terbatasnya informasi pemasaran. Kemudian, kata dia, masalah aksesibilitas UMKM dan pelayanan kredit perbankan, sepertinya telah terjadi scale gap, yakni kesenjangan antara besarnya pinjaman kredit UMKM yang diharapkan dengan realisasi dari bank. Penelitian Bank Indonesia menyebutkan juga, kendala lain yang dihadapi UMKM, 70,2% UMKM masih berperan ganda karena merangkap se-bagai pendiri, pemilik, dan manajer.
Lantas, menurut Hernawan, sebagian besar UMKM tidak merasa memerlukan izin usaha, UMKM belum concern terhadap analisis dampak lingkungan dan upah minimum, dan masih kurangnya upaya pelatihan. Untuk itu, ungkap dia, perlu ada jembatan yang kuat dan kokoh antara kalangan perbankan dan UMKM, terutama dalam penyaluran kredit.
"Bukan UMKM saja yang dituntut bankable, tetapi banknya juga harus UMKM-ble," ka-tanya.
