Profil Kabupaten Boyolali

Profil UMKM Kabupaten Boyolali terdiri dari 42 persen dengan skala mikro, 32 persen skala kecil dan 26 persen skala menengah. Rata-rata umur usaha UMKM di kabupaten Boyolali adalah 14 tahun. Sebagian besar UMKM di Kabupaten Boyolali bergerak di Sektor Pertanian dan Sektor Industri Pengolahan dengan proporsi yang sama banyaknya, yaitu sebesar 36 persen; yang diikuti oleh Sektor Perdagangan sebesar 14 persen; Sektor Jasa sebesar 9 persen; Sektor Kontruksi sebesar 3 persen; dan Sektor Pertambangan sebesar 2 persen. SementProfil UMKM Kabupaten Boyolali terdiri dari 42 persen dengan skala mikro, 32 persen skala kecil dan 26 persen skala menengah. Rata-rata umur usaha UMKM di kabupaten Boyolali adalah 14 tahun. Sebagian besar UMKM di Kabupaten Boyolali bergerak di Sektor Pertanian dan Sektor Industri Pengolahan dengan proporsi yang sama banyaknya, yaitu sebesar 36 persen; yang diikuti oleh Sektor Perdagangan sebesar 14 persen; Sektor Jasa sebesar 9 persen; Sektor Kontruksi sebesar 3 persen; dan Sektor Pertambangan sebesar 2 persen. Sementara cakupan pemasaran UMKM di kota Surakarta dapat dibedakan menjadi lokal, regional, nasional dan ekspor atau luar negeri. Secara berurutan komposisi cakupan pemasaran UMKM di Kota Surakarta adalah: cakupan pemasaran lokal 42 persen, regional 31 persen, nasional 20 persen dan ekspor 7 persen.

Sebagian besar UMKM di Kabupaten Boyolali memiliki keterbatasan dalam pengembangan usahanya (76 persen). Beberapa faktor pembatas pengembangan usaha ternsebut antara lain yaitu: persaingan (persaingan klaster, persaingan domestik dan persaingan luar negeri), penyelundupan, kebjakan ekonomi, kebijakan harga, penguasaan teknologi, permodalan dan manajerial. Sementara itu, jumlah UMKM yang bermitra dengan bank dalam pengembangan usaha hanya 35 persen dari total UMKM yang disurvei. Selain itu, sekitar 39 persen UMKM di Kabupaten Boyolali telah mengikuti pembinaan dalam mengembangkan usaha. Beberapa jenis pembinaan tersebut antara lain yaitu: pembinaan teknis, manajemen, pemasaran, promosi dan bantuan modal. Potensi perkembangan produk UMKM di Kabupaten Boyolali masih potensial untuk dikembangkan lebih lanjut. Hal tersebut ditunjukkan oleh kondisi siklus produk UMKM di kabupaten boyolali yang 36,5 persen berada dalam kondisi berkembang dan 38,5 persen dalam kondisi matang.ara cakupan pemasaran UMKM di kota Surakarta dapat dibedakan menjadi lokal, regional, nasional dan ekspor atau luar negeri. Secara berurutan komposisi cakupan pemasaran UMKM di Kota Surakarta adalah: cakupan pemasaran lokal 42 persen, regional 31 persen, nasional 20 persen dan ekspor 7 persen.

Sebagian besar UMKM di Kabupaten Boyolali memiliki keterbatasan dalam pengembangan usahanya (76 persen). Beberapa faktor pembatas pengembangan usaha ternsebut antara lain yaitu: persaingan (persaingan klaster, persaingan domestik dan persaingan luar negeri), penyelundupan, kebjakan ekonomi, kebijakan harga, penguasaan teknologi, permodalan dan manajerial. Sementara itu, jumlah UMKM yang bermitra dengan bank dalam pengembangan usaha hanya 35 persen dari total UMKM yang disurvei. Selain itu, sekitar 39 persen UMKM di Kabupaten Boyolali telah mengikuti pembinaan dalam mengembangkan usaha. Beberapa jenis pembinaan tersebut antara lain yaitu: pembinaan teknis, manajemen, pemasaran, promosi dan bantuan modal. Potensi perkembangan produk UMKM di Kabupaten Boyolali masih potensial untuk dikembangkan lebih lanjut. Hal tersebut ditunjukkan oleh kondisi siklus produk UMKM di kabupaten boyolali yang 36,5 persen berada dalam kondisi berkembang dan 38,5 persen dalam kondisi matang.